Pengukuran terhadap ranah kompetensi siswa dalam proses pembelajaran memerlukan strategi tersendiri yang berbeda dengan strategi penilaian hasil belajar melalui tes prestasi yang telah diterapkan. Kawasan ukur ranah kompetensi adalah abilitas aktual yang berbeda dengan ranah abilitas yang bersifat potensial seperti kemampuan akademik dan inteligensi. Karena menggambarkan abilitas yang aktual maka target ukur dari ranah kompetensi adalah indikator proses maupun hasil nyata dari performansi. Metode pengukuran yang sering dipakai dalam mengidentifikasi kompotensi adalah metode asesmen otentik. Metode asesmen otentik menghadirkan situasi kehidupan berikut permasalahan-permasalahannya yang empirik dan kompleks ke dalam pengalaman siswa.

Tulisan ini akan memaparkan kajian penulis untuk mengaplikasikan salah satu jenis asesmen otentik yaitu asesmen portofolio dalam mengukur kompetensi mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologis. Pengertian dasar, prosedur penyusunan hingga evaluasi portofolio akan dipaparkan dengan dikaitkan dengan pengukuran kompetensi asesmen psikologi. File selengkapnya dalam bentuk PDF bisa diunduh di sini

Asesmen otentik yaitu suatu asesmen yang melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna (Hart, 1994). Asesmen otentik menghendaki siswa untuk membangun sesuatu secara mandiri daripada memilih respon terhadap stimulus akademik. Asesment otentik lebih mengarah pada pengukuran kompetensi (skills) dibanding dengan kepribadian (trait). Target ukur dari asesmen otentik adalah pengukuran kompetensi secara langsung yang berbeda dengan pengukuran abilitas kognitif atau proses psikologis yang lain. Pengukuran kompetensi secara langsung tersebut terlihat dari situasi yang diberikan dalam proses asesmen adalah situasi nyata. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, asesmen otentik diwujudkan dalam penugasan yang didesain untuk mendukung kurikulum agar tujuan instruksional pembelajaran dapat tercapai.

Penilaian otentik adalah bentuk asesmen yang dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan tugas-tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (real-world task) yang menunjukkan aplikasi bermakna dari pengetahuan dan keterampilannya (authentic assesment tool homepage). Di dalam penilaian otentik, penilaian seringkali berdasarkan pada performa siswa. Siswa diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan mereka atau kemampuan (kompetensi) di dalam situasi apapun yang sesuai dengan yang mereka hadapi.

Asesmen otentik memiliki beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut.

a)          Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pengukuran hasil belajar. Integrasi proses asesmen otentik sebagai bagian asesmen hasil belajar menunjukkkan bahwa domain ukur pada asesmen otentik adalah domain tujuan pembelajaran. Penilaian harus menggunakan ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar

b)         Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata dan bukan masalah akademik semata. Dunia akademik adalah penyederhanan dari dunia nyata sehingga terkadang stimulasi permasalahan yang distimulasi untuk diatasi dalam proses pembelajaran belum sepenuhnya mewakili dunia nyata.

Dapat disimpulkan bahwa asesmen otentik adalah upaya untuk merealisasikan tujuan pembelajaran melalui penilaian secara langsung terhadap serangkaian kompetensi pada dunia nyata melalui penilaian pada bukti-bukti aktual dan otentik.

A. Asesmen Portofolio

Secara garis besar portofolio (portfolio) diartikan sebagai kompilasi bukti. Kompilasi bukti fisik mengenai aktivitas seseorang. Bukti yang merupakan hasil karya dan sangat berarti dalam menggambarkan kompetensi. Bentuknya dapat berupa dokumen, berkas atau bundel. Suherman (2007) mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan bukti fisik kinerja (individu atau kelompok) sebagai  data otentik  dari aktivitas yang dilakukan. Lee (2005) menjelaskan bahwa portofolio adalah kompilasi bukti menunjukkan kemajuan akademik, prestasi, ketrampilan, dan sikap. Ditambahkan bahwa bukti pada portofolio dikoleksi pada periode tertentu.

Portofolio merupakan kumpulan (koleksi) pekerjaan siswa terbaik atau karya siswa yang paling berarti sebagai hasil kegiatan belajarnya pada suatu bidang (mata pelajaran) tertentu. Koleksi pekerjaan siswa tersebut didokumentasikan secara baik dan teratur sehingga dapat mewakili suatu sejarah belajar dan demonstrasi pencapaian sesuatu secara terorganisasi (Manahal, 2001). Disimpulkan bahwa asesmen portofolio adalah asesmen terhadap serangkaian dokumentasi karya mahasiswa yang disusun secara sistematik yang membuktikan upaya, proses dan hasil belajar serta kemajuan yang dilakukan mahasiswa dalam jangka waktu tertentu.

Asesmen portofolio yang diwujudkan dalam kegiatan mengindentifikasi karya terbaik siswa, mendokumentasikan prestasi yang dibuatnya serta mengevaluasi proses dan hasil kinerja siswa memiliki fungsi yang beraneka ragam. Di Amerika Serikat fungsi asesmen portofolio antara satu distrik dengan distrik lainnya dapat berbeda dan bahkan pada skala yang lebih kecul seperti sekolah, kelas atau siswa dapat berbeda. Walberg dan Evers (xxx) merangkum empat fungsi penerapan asesmen portofolio, antara lain sebagai berikut.

  • Asesmen portofolio memberikan kesempatan siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Peninjauan terhadap portofolio akan dapat mempermudah siswa untuk mengevaluasi seberapa jauh kompetensi yang dimiliki telah memenuhi tujuan pendidikan.
  • Asesmen portofolio dapat membantu guru untuk memonitor hasil belajar siswa, mendiagnosis kekuatan dan kelemahan siswa serta membantu guru dalam mendesain perencanaan pembelajaran.
  • Asesmen portofolio dapat menjadi pertimbangan dalam perubahan kurikulum. Sebagai contoh asesmen portofolio penulisan dapat menjadi dasar penambahan waktu dalam tugas penulisan dan asesmen portofolio matematika dapat menjadi bahan untuk memberikan penekanan pada pengatasan masalah matematik.
  • Asesmen portofolio dapat menjadi indikator akuntabilitas sistem. Asesmen portofolio memberikan hasil yang informasi yang lebih valid dibanding dengan bentuk tes pilihan ganda karena asesmen portofolio memberikan peristiwa yang kompleks dan produk yang lebih nyata dibanding dengan tes pilihan ganda.

Fungsi penggunaan portofolio dan isi protofolio dapat sangat beragam. Oleh karena itu, fungsi kompilasi dokumen dalam portofolio harus diperjelas yang ditambah dengan bukti yang dapat dikumpulkan tidak boleh sembarang akan tetapi memenuhi kriteria yang ditetapkan. Penyeleksian dokumen yang akan dimuat dalam portofolio dilakukan secara sistematik yang disesuaikan dengan petunjuk yang telah ditetapkan.

B. Kompetensi dalam Melakukan Asesmen Psikologi

Asesmen psikologi adalah metode untuk mengidentifikasi kesamaan atau perbedaan individu berdasarkan karakteristik dan kapasitas personalnya (Weiner, 2003). Asesmen psikologi dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah informasi yang komprehensif  yang tidak hanya berasal dari hasil tes psikologi akan tetapi juga melalui sumber lainnya seperti wawancara, observasi, atau dokumen pendukung.

Meski terkadang sebagian orang awam melihat sebagai dua hal yang setara, asesmen psikologis berbeda dengan pemberian tes. Jika pemberian tes psikologi memuat administrasi prosedur, administrasi, penyekoran dan interpretasi data, maka asesmen psikologis menekankan proses identifikasi informasi individu atau masalah melalui berbagai macam sumber terintegrasi sehingga menampilkan informasi yang mendalam dan terfokus (Handler dan Clemence, 2003).

Kompetensi dalam melakukan asesmen psikologi, selanjutnya penulis menamakan kompetensi asesmen psikologi, merupakan kompetensi dasar yang dikembangkan pada mahasiswa fakultas psikologi. Pengembangan kompetensi ini ditopang oleh kurikulum pendidikan psikologi yang banyak memuat komponen pengembangan asesmen psikologi. Sejumlah mata kuliah yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologi, misalnya mata kuliah yang memuat metode asesmen, seperti observasi-wawancara, penyusunan skala psikologi dan psikodiagnostika ataupun mata kuliah yang terkait dengan bidang psikologi tertentu, seperti psikologi klinis, pendidikan maupun perkembangan.

Terdapat sebuah konsensus umum bahwa individu yang melakukan asesmen psikologi adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan psikologi. Sebagai contoh, kode etik yang diterbitkan oleh APA menunjukkan bahwa psikolog diharapkan memberikan pelayanan, memberikan pembelajaran, serta melaksanakan penelitian sesuai dalam kerangka kompetensi mereka yang didasarkan pada latar belakang pendidikan, pelatihan dan supervisi dari seorang ahli.

C.   Penerapan Asesmen Otentik Dalam Mengukur Kemampuan Melakukan Asesmen Psikologis

Aplikasi asesmen portofolio dilakukan menjadi tiga tahap, yaitu tahap a) perancangan portofolio, b) penyusunan portofolio dan c) penentuan prosedur evaluasi portofolio. Perancangan portofolio diwujudkan dalam penentuan tujuan dan fungsi asesmen portofolio, penyusunan portofolio adalah mendesain aktivitas bagi siswa agar menghasilkan sebuah produk yang yang nantinya akan menghasilkan bukti dalam portofolio dan prosedur evaluasi portofolio adalah penyusunan kriteria penilaian terhadap portofolio yang dihasilkan.

Dalam  mengidentifikasi kompetensi mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologis, ketiga tahap tersebut harus dilakukan secara integratif. Aplilasi asesmen portofolio tersebut dapat diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut.

  1. Tahap Perancangan Portofolio

Tujuan yang ditetapkan adalah identifikasi kemampuan mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologi yang memiliki fungsi sebagai monitoring kemajuan hasil belajar mahasiswa dan bahan untuk memberikan penilaian hasil belajar.

  1. Tahap Penyusunan Portofolio

Dosen perlu mendesain kegiatan mahasiswa yang memungkinkan dapat menghasilkan karya atau bukti otentik yang menunjukkan proses dan hasil kerja mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologi. Desain tersebut dapat berupa projek atau penugasan oleh dosen kepada mahasiswa yang menghasilkan laporan kerja. Dosen juga perlu untuk mengidentifikasi bukti-bukti otentik di luar penugasan yang relevan dengan kegiatan asesmen portofolio, misalnya partisipasi mahasiswa pada kegiatan intra kampus, misalnya magang atau kunjungan lapangan dan kegiatan ekstra kampus, misalnya kegiatan mahasiswa yang terkait dengan asesmen portofolio.

  1. Evaluasi Portofolio.

Pada tahap ini dosen menentukan kriteria yang dipakai sebagai dasar penilaian dari portofolio mahasiswa. Tidak seperti tes psikologi yang terstandarisasi berdasarkan sampel, kriteria penilaian portofolio ditetapkan sendiri oleh yang bersangkutan. Pertimbangan yang dapat dipakai adalah relevansi portofolio dengan orientasi kompetensi psikologi secara umum, kurikulum serta arah kebijakan fakultas.

Tabel 1. Contoh Format Penilaian Kompetensi Penerapan Asesmen Psikologis

No. Komponen Asesmen Psikologi Standar Kompetensi
K1 K2 K3
1 Rancangan Asesmen

–    Ketepatan penetapan tujuan asesmen

–    Keterampilan merancang prosedur asesmen

2 Metode Asesmen

–    Keterampilan mendemonstrasikan teknik wawancara

–    Keterampilan mendemonstrasikan teknik observasi

–    Keterampilan menggunakan data pendukung

3 Seting Asesmen

–    Keterampilan asesmen psikologi pada seting pendidikan

–    Keterampilan asesmen psikologi pada seting klinis

–    Keterampilan asesmen psikologi pada seting industri

4 Tujuan Asesmen

–    Fungsi identifikasi

–    Fungsi diagonis dan intervensi

–    Fungsi seleksi dan sertifikasi

Penerapan asesmen portofolio terhadap kemampuan mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologis memerlukan berbagai kajian terhadap wacana yang komprehensif mengenai konsep asesmen psikologis. Konsep asesmen psikologi merupakan konsep kompleks yang didalamnya tidak sekedar memuat proses asesmen akan tetapi sekaligus termuat isu mengenai tujuan dan rancangan, metode, seting dan etika asesmen. Target kompetensi mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologi yang diukur perlu diidentifikasi terlebih dahulu sebelum desain aktivitas dikembangkan. Target kompetensi ini dijabarkan dalam bentuk indikator yang operasional terlebih dahulu sebelum diintegrasikan dengan isu-isu asesmen psikologis yang dipaparkan di atas. Indikator tersebut kemudian digabungkan dengan hasil pemetaan mengenai isu-isu yang melingkupi aktivitas dalam pelaksanan asesmen. Contoh hasil penggabungan tersebut dapat dilihat pada tabel 1 portofolio kompetensi asesmen psikologis.

Portofolio dapat dibuat bersama oleh dosen dan mahasiswa. Dokumen produk karya mahasiswa yang akan dikompilasi dalam portofolio terlebih dahulu dikaji dan dievaluasi oleg dosen. Dalam kegiatan ini mahasiswa terbantu mengeksplorasi bukti apa saja yang menggambarkan kemajuan dan perkembangan kompetensinya dalam melakukan asesmen psikologi yang terkait dengan dunia nyata.

Bukti yang dikompilasi dalam portofolio dapat berupa: a) dokumen hasil kegiatan penalaran siswa, misalnya laporan praktikum, kliping artikel, hasil ulangan, b) dokumen yang menunjukkan kinerja mahasiswa misalnya rekaman video presentasi atau diskusi, serta c) produk otentik karya mahasiswa yang mendukung. Kompilasi bukti juga dapat tidak menggunakan ketiga jenis di atas. Perancang dapat secara arbritari dapat memakai apa saja yang dinilai dapat menampilkan bukti-bukti kemajuan perkembangan kompetensi mahasiswa untuk dimasukkan dalam portofolio. Umumnya item-item yang digunakan adalah contoh dari pekerjaan tertulis, rangkuman jurnal dan catatan harian, laporan kelompok, tes dan kuis, peta grafik, daftar buku bacaan, hasil kuisioner, tinjauan teman sejawat, dan evaluasi diri.

Dalam konteks penilaian portofolio kompetensi mahasiswa dalam melakukan asesmen psikologi, bukti yang dikumpulkan oleh dosen dapat berupa hal-hal sebagai berikut :

  1. Pemahaman mahasiswa terhadap jenis dan fungsi tes dalam asesmen psikologis.

Pemahaman mengenai jenis dan fungsi tes dapat diketahui melalui dokumen hasil praktikum mahasiswa dalam mengoperasikan tes psikologi.

  1. Perencanaan dan perancangan asesmen psikologi.

Dokumen yang dapat dipakai dapat berupa tayangan presentasi mahasiswa mengenai perancangan asesmen psikologis pada seting yang ditetapkan dalam perkuliahan.

  1. Wawasan mengenai kasus-kasus kontekstual asesmen psikologi.

Dokumen yang dapat dipakai dapat berupa tulisan mahasiswa yang mengkaji kasus asesmen psikologi.

  1. Kemampuan dalam melakukan asesmen psikologis.

Dokumen yang mendukung adalah laporan hasil pelaksanaan praktek wawancara dan observasi.

  1. Kemampuan dalam melaporkan hasil asesmen psikologis.

Dokumen yang mendukung misalnya adalah laporan pemeriksaan psikologis mahasiswa.

Evaluasi asesmen portofolio yang dilakukan dapat dipermudah dengan adanya rubrik (rubric).  Rubrik adalah bagan penilaian terhadap portofolio. Penilaian dalam rublik dapat dilakukan dengan menggunakan skala kontinum yang terdiri dari empat atau lima kategori berdasarkan tingkat keahlian. Terkadang penilaian dalam rubrik berupa skor tunggal misalnya 0 – 100 atau menggunakan skor berganda untuk menggambarkan detail tiap komponen.

Salah satu kelemehan asesmen portofolio adalah rendahnya reliabilitas dan validitas pengukuran yang dilakukan. Mengatasi permasalahan rendahnya reliabilitas dapat dilakukan dengan penggunaan lebih dari satu orang penilai. Sejumlah dosen yang memiliki kompetensi dalam bidang ini perlu ditunjuk sebagai penilai portofolio mahasiswa. Mengatasi rendahnya validitas dapat dilakukan dengan menyusun konsep mengenai kompetensi asesmen psikologi beserta indikatornya secara jelas dan operasional serta mengembangkan kriteria yang terukur yang dijadikan pijakan tepat tidaknya pengukuran yang dilakukan. Contoh rubrik yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian portofolio dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Contoh Rubrik Penyekoran Pemahaman terhadap Konsep Asesmen

Level Skor

Pemahaman Terhadap Konsep Asesmen Psikologi
4 Memperlihatkan pemahaman yang komprehensif mengenai konsep dan prinsip asesmen psikologi yang sangat terbatas

3

Memperlihatkan pemahaman yang baik mengenai konsep dan prinsip asesmen psikologi, akan tetapi masih belum memahami secara komprehensif

2

Memperlihatkan pemahaman yang terbatas mengenai konsep dan prinsip asesmen psikologi yang sangat terbatas

1

Menunjukkan pemahaman mengenai konsep dan prinsip asesmen psikologi yang sangat terbatas. Salah dalam menggunakan terminologi asesmen psikologi

Portofolio yang sudah tersusun, selain akan menjadi dasar penilaian kompetensi mahasiswa juga akan menjadi dokumen yang tercatat secara sistematik sebagai bukti hasil karya mahasiswa yang dapat dijadikan catatan dalam kurikulum vitae yang mereka susun. Dengan adanya portofoio, karya mahasiswa tidak akan terbuang percuma akan tetapi akan masuk ke dalam dokumen hasil kekayaan intelektual mereka.

PENUTUP

Konsekuensi dari penerapan pendekatan yang pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi lulusan untuk mengurangi masa tenggang lulus-kerja, diperlukan sistem penilaian yang berbasis kompetensi dan dilaksanakan berkelanjutan. Penilaian ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran dan mencerminkan masalah dunia nyata dan bersifat integratif. Untuk melengkapi sistem tersebut maka diperlukan juga berbagai jenis ukuran serta metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar. Implikasi dari diterapkannya standard kompetensi adalah proses penilaian yang dilakukan oleh dosen yang bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan kriteria. Untuk itu, dalam menerapkan standard kompetensi dosen harus mengembangkan matriks kompetensi belajar (learning competency matrix) yang menjamin pengalaman belajar yang terarah dan mengembangkan penilaian otentik berkelanjutan (continuous authentic assessment) yang menjamin pencapaian dan penguasaan kompetensi. Pengalaman (best practices) penerapan asesmen portflio dalam pengukuran kompetensi asesmen psikologi perlu dieksplorasi, yang termasuk didalamnya hasil kajian  mengenai perbandingan asesmen portofolio dengan tes prestasi yang sudah biasa dipakai serta eksplorasi sistem penilaian yang berbasis komputer.

Penerapan asesmen portofolio pada kompetensi asesmen psikologi dapat disusun berdasarkan pengalaman dunia praktis. Artinya, penyusunan tersebut dapat melibatkan praktisi yang bergerak dalam bidang tersebut. Pelibatan praktisi dalam penyusunan format asesmen portofolio tidak hanya memperkaya unsur-unsur praktis saja dalam asesmen portofolio akan tetapi juga akan memperkaya pemahaman mengenai konteks-konteks dunia praktis, seperti konteks karakteristik dan kebijakan organisasi, budaya, lingkungan serta seting yang bervariasi.

DAFTAR PUSTAKA

Handler, L. & Clemence, A.J. (2003) Education and Training in Psychological Assessment. In Graham, J.R & Naglieri, J.A  (eds) Handbook of Psychology. Canada : John Wiley & Sons, Inc.

Hart, D. (1994). Authentic Assessment, A Hand Book for Educators. New York: Addison Wesley

Hubley, A.M (2003). Achievement Testing. -Encyclopedia of Psychological Assessment Ballesteros. SAGE Publications London

Lee, S.W (2005). Encyclopedia of School Psychology. Thousand Oaks : Sage Publication

Mahanal, S. (2007). Portofolio Sebagai Asesmen Otentik. http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/07/portofolio-sebagai-asesmen-otentik/. Diakses pada tanggal 11 Desember 2008.

Suherman, E. (2007) Asesmen Portofolio. Educare. Volume 5 Nomor 1, edisi Agustus 2007

Weiner, I. B. (2003). On competence and ethicality in psychodiagnostic assessment. Journal of Personality Assessment, 53, 827–831.